Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2012

Misteri Bola dari Luar Angkasa di Nambia Terungkap


Misteri Bola dari Luar Angkasa di Nambia Terungkap

NAMIBIA - Bola logam dari luar angkasa yang jatuh di Namibia akhirnya terungkap. Benda langit tersebut sebelumnya sempat membuat heboh warga di benua Afrika tersebut. Lalu benda apakah yang menghebohkan tersebut?

Menurut para peneliti yang melakukan penyelidikan atas benda tersebut mengungkapkan, kemungkinan besar tangki bahan bakar dari sebuah roket tak berawak. Bola logam ini mempunyai berat 6 kilogram dengan diameter 1,1 meter, ditemukan di dekat sebuah desa di sebuah padang rumput terpencil sekitar 750km dari ibukota, Windhoek.

Warga melaporkan bahwa mendengar ledakan kecil beberapa kali beberapa hari sebelumnya dan otoritas yang berwajib bingung menghubungi NASA dan badan antariksa Eropa. Sedangkan internet mulai berputar-putar soal rumor bahwa hal itu mungkin menjadi bukti kehidupan mahluk asing di luar Bumi.

Dilansir melalui The Age, Selasa (27/12/2011), para ilmuwan berspekulasi bahwa itu adalah tangki hidrazin 39 liter, yang biasanya digunakan pada roket tak berawak untuk meluncurkan satelit. Namun mereka tidak menjelaskan mengapa bola tersebut jatuh ke dalam suatu jejak geografis tertentu.

Dalam 20 tahun terakhir, beberapa bola serupa dikabarkan telah jatuh di Afrika Selatan, Australia dan Amerika Latin.

sumbers : http://berita.plasa.msn.com/article.aspx?cp-documentid=5696522

Yang Tersembunyi di Balik Bayangan Bulan

WASHINGTON - Bagian paling menarik dari Bulan serta kerap jadi pertanyaan adalah sisi paling gelapnya yang sulit dilihat. Bagian ini tertutup bayangan permanen, selalu gelap, dan tidak pernah memantulkan cahaya Matahari.

Teleskop dan satelit tidak punya cara untuk membayangkan wilayah di balik bayangan permanen Bulan itu bila menggunakan pencahayaan biasa. Sekarang, para peneliti antariksa telah menggunakan metode yang lebih taktis untuk melihat apa yang tersembunyi di sana.

Dilansir Msnbc, Jumat (20/1/2012), wilayah yang selalu gelap tersebut terletak di kutub Bulan, dan umumnya berada jauh di dalam kawah yang tak dapat dijangkau cahaya Matahari. Para peneliti ternyata menemukan kemungkinan adanya kandungan air beku di sana.

"Ketimbang menggunakan cahaya Matahari yang dipantulkan lurus ke kawah, kami memilih rute tidak langsung," kata co-author penelitian Kurt Retherford, peneliti senior dari Southwest Research Institute di San Antonio.

Untuk melihat wilayah ini, para peneliti menggunakan cahaya yang dipantulkan dari atom hidrogen. Atom hidrogen yang mengambang di seluruh jagad raya tersebut, menyebar ke segala arah, bahkan dapat menjangkau wilayah tersembunyi di balik bayangan Bulan. Data baru yang mereka temukan menunjukkan tertutup bayangan itu memiliki lyman alpha emission yang lebih gelap ketimbang wilayah lainnya.

"Penjelasan terbaik kami tentang perbedaan pantulan di kutub Bulan adalah karena permukaannya lebih gembur dan pulen. Bentuknya seperti bubuk atau sejenis tepung," kata Retherford.

Penyebabnya bisa saja karena partikel kecil air beku bergerak keluar masuk dari butiran lumpur, dan menghasilkan lubang pada butiran-butiran tersebut sehingga menciptakan tekstur yang gembur.

Penelitian tersebut mengindikasikan kehadiran sekira dua persen air pada lumpur di wilayah berbayang, sedangkan pada wilayah yang terkena sinar Matahari hanya 0,5 persen saja.

"Anda akan mengharapkan wilayah yang tertutup bayangan permanen ini, memiliki lebih banyak lagi ketimbang yang telah kita lihat dari luar," tandasnya.

"Suatu hari, ketika astronot pergi ke wilayah ini, kita perlu indra yang lebih tajam untuk merasakan apa yang akan mereka lihat. Pengukuran air yang sebelumnya dilakukan berkaitan dengan air yang jauh di balik permukaan. Namun kami benar-benar berurusan dengan apa yang nampak di permukaan, yaitu akan adanya air yang lebih mudah diakses astronot di masa depan," tambahnya.

sumber : http://berita.plasa.msn.com/teknologi/okezone/article.aspx?cp-documentid=5788931

Senin, 13 Juni 2011

Hujan Api di Permukaan Matahari

Lidah api matahari meletus pada Selasa (7/6/2011) pagi. Uniknya, letusan tidak menyebabkan lidah api ke angkasa, melainkan kembali ke matahari, menciptakan hujan berbentuk mahkota.

Peneliti surya asal NASA Jack Ireland mengaku belum pernah melihat kejadian seperti ini. Letusan terbilang berukuran sedang, tetapi plasma yang mengandung magnet yang dilontarkan lidah api--disebut filamen--bisa berukuran 10 kali Bumi. Kejadian letusan itu terjadi dalam jangka waktu beberapa jam.


Filamen yang besar biasanya terlepas dari medan magnet matahari dan melewat ke luar angkasa. Demikian penjelasan dari ilmuwan NASA Alex Young. Hanya saja pada kejadian kali ini, filamen kembali ke matahari. "Kemungkinan tidak punya energi yang cukup," katanya.

Hujan plasma tidak jatuh tegak lurus ke matahari, tetapi mengikuti garis medan magnet yang tidak tampak. Beberapa material tertarik ke titik terang aktivitas magnetik, yang disebut area aktif. "Medan manget dari area aktif itu menarik plasma. Sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya," kata Young.

Kejadian itu terekam oleh Solar Dynamics Observatory milik NASA. Kejadian tersebut sendiri tidak akan berefek pada Bumi. "Tak perlu khawatir. Nikmati saja keindahannya," kata Young.

Source : National Geographic Indonesia/Alex Pangestu
Gamma Ray  ;       http://www.flucard.blogspot.com

Sabtu, 11 Juni 2011

Pemburu Komet Masuki Masa Hibernasi


Rosetta, wahana antariksa si pemburu komet yang telah beroperasi 10 tahun, segera memasuki masa 
hibernasi. Pada masa ini sebagian perangkat wahana antariksa ini akan mati. Bahkan, wahana antariksa ini akan putus kontak dengan pengendali misi di Bumi.

Paolo Ferri, pimpinan Divisi Operasinal Misi Planet dan Matahari di Space Operation Center Eurpean Space Agency (ESA), mengatakan, "Hibernasi adalah langkah penting untuk mencapai target final." Hibernasi penting untuk penghematan energi sehingga bisa menempuh jarak jauh dari matahari.

Selama masa hibernasi, hanya perangkat komputer dan beberapa pemanas  yang akan tetap hidup, menjaga agar perangkat penting dalam wahana ini tak membeku. Perangkat tersebut akan bekerja dengan energi yang diperoleh lewat panel surya seberat 3 ton yang dimiliki wahana ini.

Berdasarkan press release ESA, masa hibernasi akan berakhir 20 Januari 2014 atau 31 bulan kemudian. Saat itu, wahana ini diharapkan telah mendekati target berikutnya, komet 67/P Churyumov-Gerasimenko yang berjarak 675 juta kilometer dari Bumi.

Pada tanggal tersebut, wake up call akan dikirimkan ke Rosetta. Selama beberapa minggu kemudian, pengendali misi di Bumi akan melakukan program pemanasan dan pengaktifan kembali sehingga Rosetta siap menjemput komet impiannya pada Juli 2014.

"Dengan 'kunjungan' ke asteroid Steins tahun 2008 dan Lutetia tahun 2010, Rosetta telah menghasilkan penemuan ilmiah yang mengagumkan," kata Ferri. Ke depan, Rosetta diharapkan menghasilkan penemuan lebih memukau.
Sumber : dailymail.co.uk


Gamma Ray  ;       http://www.flucard.blogspot.com

Kamis, 09 Juni 2011

Bintang Meledak Dekat Galaksi Bima Sakti

Supernova terakhir yang diamati di M51, terjadi pada tahun 2005 lalu.


Source : Daily Galaxy
Gamma Ray  ;       http://www.flucard.blogspot.com

Rabu, 08 Juni 2011

Bukti Kehidupan di Mars



David Martines, seorang astronom amatir asal California yang menjelajah Mars lewat Google Earth Mars Explorer, mendapati adanya citra obyek silinder berwarna putih kabur di permukaan Mars. Ia kemudian mengunggah citra tersebut beserta pendapat pribadinya ke YouTube, 28 Mei 2011, dan hingga kini telah dilihat 750.000 kali.

Mungkinkah citra obyek itu menjadi bukti adanya kehidupan di Mars? Martines mengklaim demikian. Ia menamakan bagian itu Bio Station Alpha.

"Karena saya mengasumsikan sesuatu hidup atau pernah hidup di bagian itu," katanya menguraikan alasan penamaannya.

Dalam videonya, Martines menuturkan, "Ini sangat tak biasa karena ukurannya sangat besar, mencapai panjang 700 kaki dan lebar 150 kaki, ini seperti silinder atau tersusun atas bangunan silinder."
Ia mengatakan, koordinat Bio Station Alpha ialah 71 49'19.73"N 29 33'06.53"W. Menurut dia, semua orang bisa melihatnya lewat Google Earth.

"Siapa pun yang meletakkannya di sana pasti punya tujuan. Saya yakin. Saya tak bisa membayangkan tujuannya. Saya juga tak bisa membayangkan mengapa orang ingin hidup di Mars," katanya.

Tapi, pastinya pihak yang menaruhnya masih teka-teki. Apakah NASA yang melakukannya? Martines berkomentar, "Saya tidak tahu jika mereka bisa melakukan proyek tanpa orang mengetahui mereka membawa material ke sana. Saya ragu kalau NASA punya keterkaitan dengan ini. Saya bahkan tak tahu apakah NASA mengetahui ini atau tidak."

Juru bicara sebuah perusahaan yang tak disebutkan namanya, mengatakan, citra yang dihasilkan Google Earth berasal dari banyak lokasi dan sumber sehingga gangguan dan error bisa terjadi. Citra yang dimaksud Martines bisa jadi merupakan error tersebut.

"Dalam beberapa kasus, fitur yang unik bisa tampak dalam citra dan bisa kita lihat. Ini bisa saja hasil dari beberapa hal, seperti error dalam pemrosesan citra ataupun fitur permukaan yang random, untuk menyebut beberapa," ungkap juru bicara itu.

Sementara komentator video pun memiliki tanggapan sendiri-sendiri. Ada yang berpendapat bahwa obyek itu ialah buatan manusia, ada pula yang mengatakan bahwa obyek itu adalah debris dari upaya manusia mengirimkan wahana antariksa ke Mars maupun struktur batuan. Bagaimana pendapat Anda?

Source  : FOX NEWS

Gamma Ray  ;       http://www.flucard.blogspot.com

Senin, 30 Mei 2011

Teleskop Rekam Tabrakan Antargalaksi

Teleskop Spitzer dan wahana antariksa Galaxy Evolution Explorer (GALEX) berhasil menangkap citra tabrakan antargalaksi dari awal sampai selesai. Peneliti Harvard Smithsonian Center for Astrophysics yang melakukan observasi ini, Lauranne Lanz, mempresentasikan citra tersebut dalam American Society Meeting di Boston.



"Citra ini adalah langkah pertama untuk mengetahui cerita bagaimana galaksi terbentuk, berkembang, dan berevolusi," kata Lanz. Menurut dia, gambar ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang mungkin terjadi ketika galaksi Bimasakti dan Andromeda bertabrakan 5 miliar tahun mendatang.

Dalam pengambilan citra, GALEX berperan mengemisikan sinar ultraviolet untuk mencitrakan bintang muda dalam warna biru. Sementara teleskop Spitzer yang mengemisikan sinar inframerah mengiluminasi debu yang terpanaskan dalam warna merah. Paduan dua alat itulah yang menghasilkan data yang kaya.

Lanz mengatakan, dalam setiap tabrakan galaksi, jumlah bintang yang dihasilkan akan bervariasi. Kini, ia tengah meneliti faktor yang memengaruhi variasi itu. Lanz juga bekerja keras untuk menguji pemahamannya. "Pemahaman kami akan benar-benar dites 5 milIar tahun lagi saat Bimasakti mengalami tabrakan," kata Lanz.

Source :  NewScientist

Gamma Ray  ;       http://www.flucard.blogspot.com

Rabu, 25 Mei 2011

Bima Sakti Ternyata 50 Persen Lebih Besar


Konsep galaksi Bima Sakti yang dibuat oleh ilustrator mengesankan bahwa astronom memiliki pengetahuan persis seperti apa rupa galaksi kita. Ternyata tidak demikian. Dari penelitian terbaru, diindikasikan bahwa galaksi tempat tinggal kita jauh lebih besar dari perkiraan.

Selama bertahun-tahun, kita mengira bahwa Bima Sakti jauh lebih kecil dibanding galaksi tetangga terdekat kita yakni Andromeda. Menggunakan metode pengukuran terbaru, dari bagaimana cara galaksi kita berotasi, sekelompok peneliti astrofisika dari Harvard menyimpulkan bahwa Bima Sakti 50 persen lebih besar dibanding perkiraan sebelumnya.

“Kini jangan lagi memandang Bima Sakti sebagai adik kecil di kelompoknya,” kata Mark Reid, peneliti dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. “Kita boleh berpendapat bahwa Bima Sakti dan Andromeda merupakan saudara kembar,” ucapnya.

Sayangnya, kata Reid, kita berada di dalam galaksi, jadi kita tidak bisa melihat lebih jelas seperti apa rupa rumah kita. “Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan mengukur berapa cepat galaksi kita berotasi dan jumlah massa yang harus hadir di dalam struktur untuk menghasilkan kecepatan tersebut,” ucapnya.

Menggunakan teleskop radio Very Large Baseline, Reid dan timnya menemukan bahwa Bima Sakti berotasi pada kecepatan sekitar 600 ribu mil per jam atau 100 ribu mil per jam lebih cepat dibanding perkiraan.

“Jika dikalkulasikan, itu berarti bahwa ada peningkatan massa sebesar 50 persen dibanding perkiraan sebelumnya,” ucap Reid. “Salah satu konsekuensi dari Bima Sakti yang lebih besar, kita kemungkinan akan bertabrakan dengan galaksi Andromeda lebih cepat,” ucapnya.

Satu pertanyaan yang belum terpecahkan, kata Reid, adalah bagaimana rupa Bima Sakti kita sebenarnya.

Source : Wired

Senin, 23 Mei 2011

Bintang yang Meledak Lontarkan Peluru Kosmik


Sebuah objek berbentuk peluru terlihat terlontar keluar dari ledakan sebuah bintang yang mati. ‘Peluru’ itu terekam dalam sebuah gambar yang diambil oleh Chandra, teleskop sinar X luar angkasa milik NASA.

Teleskop itu mengambil gambar ledakan N49, supernova di Large Magellanic Cloud, sebuah galaksi kecil tetangga galaksi Bima Sakti. Peluru kosmik itu tertangkap saat astronom menggunakan Chandra selama 30 jam untuk mendapatkan eksposur yang lama.

Peluru yang menandakan terjadinya sebuah ledakan asimetris bergerak dengan kecepatan sekitar 8 juta kilometer per jam dan meninggalkan sumber titik terang di bagian kiri atas N49. Sumber terang ini disebut juga sebagai soft gamma-ray repeater (SGR), sebuah sumber yang memancarkan sinar gamma dan sinar X.

Dari pengamatan, kemungkinan objek tersebut merupakan bintang neuron yang memiliki medan magnet sangat kuat. Berhubung bintang neuron seringkali terbentuk dalam sebuah ledakan supernova, hubungan antara SGR dan sisa-sisa ledakan supernova merupakan hal yang umum.

Hubungan tersebut diperkuat oleh bukti akan adanya kesesuaian antara jalur peluru tersebut dengan sumber sinar X yang terang tersebut.

Dari foto yang dibuat oleh Chandra, diperkirakan usia N49 mencapai 5 ribu tahun dan energi yang dihasilkan oleh ledakan itu diperkirakan mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan ledakan supernova pada umumnya.

Hasil penelitian awal ini mengindikasikan bahwa ledakan itu berasal dari hancurnya sebuah bintang raksasa. Temuan dan foto-foto Chandra itu sendiri dipaparkan pada ajang American Astronomical Society di Miami, Florida, baru-baru ini.

Source : space.com
Gamma-Ray ; http://flucard.blogspot.com

10 Planet "Musafir" Ditemukan


 
Astronom berhasil menemukan 10 planet "musafir" di galaksi Bimasakti, arah gugusan bintang Sagitarius. Layaknya musafir, planet itu berjalan dalam kesendirian, tanpa planet lain dan tanpa bintang sebagai induknya, mengambang bebas. Menurut ilmuwan, massa dan komposisi 10 planet tersebut ekuivalen dengan Jupiter dan Saturnus, terutama terdiri dari helium dan hidrogen.

Daniel Bennet, astronom dari University of Notre Dame yang terlibat penelitian ini, mengatakan, "Kami memperkirakan planet-planet itu terbentuk di sekitar bintang dan selanjutnya, dalam tahap lanjut formasinya, mereka terlontar keluar, terutama akibat interaksi dengan planet lain."

Berdasarkan penemuan terakhir, diperkirakan ada banyak planet mengambang bebas di angkasa, tanpa bintang yang berjarak kurang dari 10 kali jarak Bumi-Matahari. Menurut estimasi Bennet, total planet mengambang bebas adalah 1,8 kali lebih banyak dari jumlah bintang. "Ini sedikit lebih besar dari yang orang perkirakan," kata Bennet. Banyak planet mengambang bebas yang tidak terlihat.

Mengungkapkan proses penemuan planet-planet itu, Bennet mengatakan, "Survei kami seperti sensus populasi. Kami mengambil sampel di galaksi dan berdasarkan data itu kami bisa memperkirakan jumlah total (planet musafir) di galaksi." Menurut dia, survei ini hanya sensitif dengan planet berukuran sebesar Jupiter. Namun, diperkirakan planet yang lebih kecil seperti sebesar Bumi lebih mudah terpental dari dekat bintangnya.

Bennet mengungkapkan, planet mengambang bebas sebesar Bumi berpotensi mendukung kehidupan. "Ada beberapa paper yang mengatakan bahwa planet mengambang bebas sebesar Bumi memiliki temperatur yang mendukung kehidupan. Alasannya adalah bila mereka tak dekat dengan bintangnya, maka tak punya mekanisme menghilangkan atom hidrogen dari atmosfer, itu bisa menjadi gas rumah kaca yang efektif," urai Bennet.

Gas rumah kaca yang efektif sangat menentukan kemampuan planet mengambang bebas sebesar Bumi dalam mendukung kehidupan. Seperti Bumi, planet itu memang memiliki material radioaktif yang penguraiannya bisa menghasilkan panas. Namun, panas yang dihasilkan 10.000 kali lebih kecil dari panas Matahari sehingga gas rumah kaca diperlukan untuk menjaga agar temperatur planet itu tetap tinggi.

Di luar mampu tidaknya planet tersebut mendukung kehidupan, penemuan planet mengambang bebas ini bisa membantu ilmuwan untuk memahami proses pembentukan dan evolusi sistem keplanetan. Salah satu pandangan yang berkembang mengatakan, sistem keplanetan sering tidak stabil dan ada beberapa planet yang kemudian terlontar keluar dari sistemnya. Penemuan 10 planet mengambang bebas ini bisa mendukung pandangan itu.

Dalam observasi yang berakhir pada penemuan 10 planet mengambang bebas ini, Bennet dan timnya menganalisis data dari observasi di wilayah gembungan Bimasakti. Data direkam menggunakan teleskop Microlensing Observation in Astrophysics selebar 1,8 meter di Selandia Baru.

Source : guardian.co.uk

Gamma-Ray ; http://flucard.blogspot.com

Minggu, 22 Mei 2011

4 Planet Bikin "Double Date"

 
Dini hari empat planet yang terdiri atas Merkurius, Venus, Mars, dan Jupiter akan menggelar "double date". Venus akan berkencan dengan Jupiter, sementara Merkurius dengan Mars. Kencan keempat planet itu paling bagus disaksikan sekitar pukul 04.00-05.00 pagi.

Venus dan Jupiter akan bersinar terang. Saking terangnya sehingga tampak seperti dua supernova. Dua planet itu hanya terpisah 0,5 derajat, satu jari cukup untuk menyembunyikan planet dari pandangan. Venus akan bersinar pada magnitudo -3,8 dan Jupiter -2,1.

Merkurius akan terpisah 2 derajat dari Venus. Sementara Mars akan ada sedikit di bawah Merkurius. Sayangnya, cahaya Merkurius dan Mars tak seterang Venus dan Jupiter sehingga lebih sulit mengamati dua planet tersebut.

Pastinya, "double date" keempat planet itu bisa diamati bila langit cerah. Menurut para astronom, kencan keempat planet akan berlangsung 5 jam 38 menit. Pengamatan di siang hari juga mungkin dilakukan, tapi perlu trik sehingga tak merusak mata.

Waktu yang paling baik untuk pengamatan sendiri adalah saat subuh. Pengamatan bisa dilakukan dengan mata telanjang dengan mengarahkan pandangan ke timur. Hingga beberapa saat setelah Matahari terbit, keempat planet diperkirakan masih bisa terlihat.

Pada bulan Mei ini, planet-planet di tata surya kita memang sedang senang berkencan. Tanggal 13 Mei 2011, Merkurius, Venus, dan Jupiter membentuk segitiga. Pada tanggal 20 Mei 2011, segitiga baru bisa diamati, terdiri atas Mars, Venus, dan Merkurius.

Kencan antarplanet adalah fenomena konjungsi planet. Selama bulan Mei, Jupiter, Mars, Merkurius, Venus, Uranus, dan Neptunus berada nyaris segaris di sepanjang garis edar semu Matahari. Sebagai final, tanggal 30 Mei 2011, lima planet akan tampak sekaligus.

Source : NASA

Angin Perusak Galaksi

Hembusan angin merampas gas molekular yang dibutuhkan untuk membentuk bintang baru

Observatorium infra merah luar angkasa Herschel milik European Space Agency (ESA) telah mendeteksi pergerakan angin yang terdiri dari molekul gas yang mengalir pergi dari galaksi.



Angin yang sudah dipantau selama bertahun-tahun ini diduga memiliki kekuatan yang cukup untuk memusnahkan galaksi yang terdiri dari gas dan menghentikan pembentukan bintang sejak dini.

Angin yang dideteksi Herschel tersebut sangat luar biasa. Sebagian bertiup sangat kencang, dengan kecepatan lebih dari 1.000 kilometer per detik. Angin ini 10 ribu kali lebih cepat dibandingkan dengan badai yang berhembus di Bumi.

“Ini kali pertama aliran gas molekular seperti itu bisa diamati dengan jelas dalam sebuah galaksi,” kata Echard Sturm, peneliti dari Max-Planck Institut, yang mengetuai penelitian.

Temuan ini, kata Sturm, merupakan hal yang penting karena bintang terbentuk dari gas molekular. Sementara aliran angin ini mencuri bahan-bahan milik galaksi yang dibutuhkan untuk membuat bintang baru. “Jika hembusannya cukup kuat, mereka bahkan bisa menghentikan total pembentukan bintang,” ucapnya.

“Dengan Herschel, kini kita bisa mempelajari apa pengaruh hembusan angin ini terhadap evolusi galaksi,” sebut Sturm.

Dari penelitian, disimpulkan bahwa hingga 1.200 kali lipat massa Matahari kita hilang setiap tahunnya akibat hembusan angin dahsyat tersebut. Jumlah itu sama dengan terkurasnya persediaan gas milik galaksi untuk membentuk bintang antara satu sampai 100 juta tahun ke depan. Padahal, gangguan terhadap pembentukan bintang memiliki efek buruk pada galaksi tersebut.

Angin ini sendiri bisa jadi disebabkan oleh pengeluaran partikel dan cahaya yang sangat intens dari sebuah bintang baru atau bisa juga oleh gelombang kejut yang berasal dari ledakan bintang tua. Alternatif lain, angin bisa dipicu oleh radiasi yang diakibatkan oleh zat-zat yang berputar kencang di sekitar lubang hitam, di tengah-tengah galaksi.

Source : Daily Galaxy

Kamis, 19 Mei 2011

Planet Gliese 581d Dipastikan Layak Huni


Gliese 581d, sebuah planet bebatuan raksasa yang mengitari sebuah bintang red dwarf (bintang dengan massa lebih rendah dibanding Matahari dan bersuhu di bawah 4000 derajat Kelvin) dikonfirmasi sebagai planet pertama yang memenuhi persyaratan mampu menampung kehidupan.

Planet yang berjarak sekitar 20 tahun cahaya dari Bumi ini merupakan salah satu tetangga terdekat planet kita. Ia diperkirakan bersuhu cukup hangat dan cukup basah untuk menumbuh kembangkan kehidupan serupa yang dimiliki planet Bumi.

Gliese 581d mengorbit di zona Goldilocks (kawasan di mana kehidupan dimungkinkan terbentuk) milik bintang Gliese 581. Seperti diketahui, di Goldilocks zone, temperatur tidak terlalu panas sehingga menyebabkan air mendidih ataupun tidak terlalu dingin hingga membuatnya membeku namun  berada di suhu yang tepat agar air tetap dalam bentuk cair.

Dengan atmosfir yang padat akan karbon dioksida, yang merupakan skenario paling memungkinkan untuk planet berukuran raksasa, iklim di Gliese 581d stabil dan cukup hangat untuk memiliki samudera, awan, dan curah hujan,” kata peneliti National Centre for Scientific Research (CNRS).

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters, Gliese 581d memiliki massa setidaknya 7 kali lipat dibanding Bumi berukuran sekitar 2 kali lipat planet Bumi.

Sebelum ini, perhatian astronom justru fokus ke saudaranya, yakni planet Gliese 581g, setelah diketahui bahwa planet tersebut memiliki massa serupa dengan massa Bumi dan juga berada di dekat zona Goldilocks.

Pertamakali ditemukan pada tahun 2007, Gliese 581d awalnya tidak masuk kandidat sebagai tempat untuk mencari kehidupan di luar Bumi. Salah satu alasannya adalah ia hanya mendapat sepertiga radiasi Matahari seperti yang didapat Bumi dan kemungkinan ‘tidally locked’ atau hanya satu sisi yang selalu menghadap mataharinya dan punya siang dan malam hari permanen.

Akan tetapi, pemodelan terbaru yang dibuat oleh Robin Wordsworth, Francois Forget, dan rekan-rekan ilmuwan CNRS lainnya menunjukkan hasil yang mengejutkan. Atmosfir planet itu mampu menyimpan panas berkat padatnya gas CO2 dan dihangatkan oleh cahaya dari bintangnya.

“Secara keseluruhan, temperatur di sana memungkinkan air cair hadir di permukaan planet itu,” kata peneliti. “Massa planet yang besar juga berarti gravitasi di permukaannya kurang lebih dua kali lipat dibanding gravitasi Bumi,” ucapnya.

Akan tetapi, tidak begitu saja peneliti bisa mengirimkan astronot ke planet itu. Dari Bumi, pesawat ruang angkasa yang mampu terbang dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun untuk tiba di sana. Sayangnya, teknologi roket yang sudah dimiliki umat manusia saat ini baru bisa mengantarkan
kita ke Gliese 581d dalam waktu 300 ribu tahun.

Source : Daily Galaxy


Gamma-Ray ; http://flucard.blogspot.com

Sabtu, 14 Mei 2011

Insiden Misterius Matikan Satelit Jepang


Tugas satelit milik badan antariksa Jepang (JAXA) paripurna. Pada Kamis 12 Mei 2011, satelit itu diumumkan mati di orbit, tiga minggu setelah insiden misterius melumpuhkan satelit tersebut.

Daici, dikenal sebagai satelit pengamat bumi (Advanced Land Observing Satellite/ ALOS). Satelit itu diturunkan pada 22 April dengan alasan yang tidak jelas. JAXA berulang kali mencoba menjalin komunikasi dengan Daichi, tapi akhirnya menyerah.

"Kami memutuskan untuk menyudahi operasi ini dengan mengirimkan perintah dari bumi untuk menghentikan transmiter dan baterai pada jam 10:50 siang [waktu Jepang] pada 12 Mei, karena kami menganggap tak mungkin lagi membenahi komunikasi dengan satelit," kata pejabat JAXA.

Pejabat itu mengatakan kematian Daichi (yang berarti tanah) bukan murni kegagalan. Dia menambahkan, pesawat ruang angkasa itu diluncurkan pada Januari 2006 dengan rencana masa aktif tiga tahun. Berarti, pada tahun 2011 ini, ia telah melampaui target semula.

Satelit Daichi bertugas untuk melakukan pengamatan bumi,  memetakan planet, memantau sumberdaya alam dan memastikan perubahan di bumi, seperti perambahan hutan. Menurut pejabat JAXA, selama lima tahun masa kerjanya, Daichi telah berhasil menghasilkan 6.5 juta foto planet bumi dari ketinggian sekitar 435 mil (700 km).


Daichi juga telah memainkan peran yang besar dalam memonitor bencana, membantu pemerintah merespon iklim alam, seperti gempa bumi. Setiap tahunnya, satelit ini telah mengamati sekitar 100 wilayah yang dilanda bencana di seluruh penjuru dunia.

Satelit Daichi menghasilkan banyak foto pantai timur Jepang yang sangat berguna setelah dilanianda tsunami pada 11 Maret 2011. Selama pengamatan ini, yang diakhiri dengan bagus pada April, sekaligus tanda kematiannya pertama kali muncul.

Pejabat Jepang mengatakan, JAXA akan melanjutkan investigasi penyebab kematian Daichi pada April lalu.

Source : space.com.

Gamma-Ray ; http://flucard.blogspot.com

Kamis, 12 Mei 2011

Ditemukan, 2 Bintang yang Akan Bertabrakan


Tabrakan dua bintang sekarat itu akan membentuk satu bintang baru yang akan hidup lama.
Ilmuwan telah menemukan sebuah sistem biner yang terdiri dari dua buah bintang ‘white dwarf’ atau bintang yang berada di akhir masa hidupnya. Uniknya, kedua bintang ini diperkirakan akan saling bertabrakan dan melahirkan sebuah bintang baru.

Seperti diketahui, Matahari kita, dan lebih dari 90 persen dari seluruh bintang yang ada di galaksi Bima Sakti, suatu saat akan masuk ke tahap bintang white dwarf yang merupakan bintang dengan inti yang redup, memudar karena reaksi fusi nuklir telah berhenti.

Bara api yang sedang mendingin ini, yang saat ini jumlahnya mencapai sekitar 10 persen dari seluruh bintang yagn ada di galaksi kita, umumnya memiliki bobot antara 40 sampai 90 persen massa Matahari kita namun dipadatkan dalam sebuah bola berukuran sebesar planet Bumi.

Sepasang bintang yang tengah saling mengitari satu sama lain sendiri sudah ditemukan sebelumnya. Akan tetapi ini merupakan yang pertamakali sepasang bintang yang saling berotasi dan akan bertabrakan dan membentuk bintang baru.

“Bintang-bintang ini sudah mengarungi hampir seluruh masa hidupnya. Saat mereka bergabung, mereka akan terlahir kembali dan menjalani kehidupan kedua,” kata Mukremin Kilic, astronom dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Sistem biner yang baru ditemukan itu disebut
SDSS J010657.39-100003.3 dan berada di konstelasi Cetus, yang berada di jarak 7.800 tahun cahaya dari Bumi. Mereka ditemukan dalam sebuah survey yang dilakukan bersama dengan MMT Observatory di Mount Hopkins, Arizona, Amerika Serikat.

Sistem biner itu terdiri dari sepasang bintang white dwarf. Satu bintang yang terlihat dan satu lagi tidak terlihat yang keberadaannya diindikasikan dengan bagaimana ia membelokkan secara gravitasi bintang yang terlihat.

Bintang yang terlihat sendiri bobot sekitar 17 persen dari massa Matahari, adapun bintang lainnya memiliki massa 43 persen Matahari. Astronom yakin kedua bintang itu terdiri dari helium.

Kedua bintang white dwarf ini saling mengorbit satu sama lain dengan jarak 225 ribu kilometer lebih dekat dibanding jarak Bumi dengan Bulan. Mereka berputar dengan kecepatan 1,6 juta kilometer per jam dan menyelesaikan satu rotasi hanya dalam waktu 39 menit. Sejauh ini, mereka merupakan pasangan bintang yang paling cepat berotasi yang pernah ditemukan.

Berhubung mereka saling berputar dalam jarak yang dekat, mereka membelokkan struktur ruang dan waktu, menghasilkan riak yang membawa pergi energi, yang menyebabkan mereka berputar semakin mendekat. Setelah itu, dalam 37 juta tahun mendatang, kedua bintang ini akan saling bertabrakan.

Pada laporan yang dipublikasikan di jurnal Royal Astronomical Society, peneliti menyebutkan, proses penggabungan white dwarf sendiri bisa memunculkan ledakan supernova. Akan tetapi, itu hanya terjadi jika dua bintang yang bergabung memiliki total massa 140 persen dibanding Matahari.

Menurut peneliti, kedua bintang yang akan bergabung ini tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menghasilkan ledakan supernova. Tetapi mereka cukup besar untuk memaksa atom-atom helium di sisa-sisa penggabungan untuk menyala.

Dimulainya fusi nuklir di bintang yang beru bergabung itu akan membuatnya bersinar seperti layaknya bintang biasa sampai akhirnya ia akan mendingin dan kembali menjadi white dwarf.

“Kemungkinan ada banyak bintang-bintang seperti ini di galaksi,” kata Kilic. “Saat ini kami tengah mencari biner white dward lain yang lebih dekat untuk bergabung, dan kami memprediksi bahwa ada peluang besar untuk menemukannya,” ucapnya.

Source : space .com

Gamma-Ray ; http://flucard.blogspot.com

Selasa, 10 Mei 2011

2030, Sampah Luar Angkasa Naik 3 Kali Lipat




Di ketinggian antara 700 kilometer sampai 1300 kilometer terdapat jutaan puing-puing.

Dalam sebuah konferensi, William Shelton, pimpinan US Air Force Space Command mengungkapkan kekhawatirannya seputar bertambahnya jumlah sampah luar angkasa buatan manusia.

“Angkanya terus meningkat. Sekarang ini sudah lebih dari 50 negara yang terlibat dalam eksplorasi ruang angkasa,” kata Shelton. “Saat ini, lebih dari 20 ribu benda tak terpakai berada di ruang angkasa,” ucapnya.

Saat ini, kata Shelton, pihaknya terus memantau secara rutin pertumbuhan sampah-sampah ruang angkasa. “Melihat tren pertumbuhannya, diperkirakan angka itu akan naik tiga kali lipat pada tahun 2030,” ucapnya. “Padahal, kemungkinan jumlah sampah itu 10 kali lebih banyak karena sensor yang kami punya saat ini tidak mampu melacak seluruh sampah yang ada,” ucap Shelton.

Yang mengerikan, sebut Shelton, benda-benda yang menjadi sampah tersebut sangat berbahaya. “Mereka bisa merusak sistem luar angkasa militer, sistem luar angkasa sipil, satelit komersial, dan lain-lain,” ucapnya. “Tak ada yang kebal dari ancaman yang ada di orbit saat ini,” kata Shelton.

Menurut Marshall Kaplan, pakar puing-puing ruang angkasa dari Space Department, Johns Hopkins University, sampah luar angkasa yang berada di orbit rendah bumi telah terakumulasi sejak 50 tahun belakangan. Penambahan terakhir adalah, sisa-sisa pengujian Anti-Satellite (ASAT) milik China pada tahun 2007.

“Satu uji coba ini telah meningkatkan jumlah objek puing-puing sekitar 35 persen,” kata Kaplan. “Parahnya, lokasinya berada di ketinggian 865 kilometer, kawasan terpadat di mana satelit umumnya mengorbit,” ucapnya.

Kasus lain, pada Februari 2009, satelit Iridium 33, satelit komunikasi milik AS bertabrakan dengan Cosmos, pesawat ruang angkasa Russia yang sudah tidak terpakai, di ketinggian yang serupa dengan uji coba ASAT milik China. Akibatnya, pecahan puing-puing makin berserakan.

“Hasil dari peluncuran satelit selama 50 tahun terakhir serta dua kejadian tersebut, kini kawasan di antara ketinggian 700 kilometer sampai 1300 kilometer terdapat jutaaan puing-puing berukuran mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa meter,” ucap Kaplan.

Sayangnya, kata Kaplan, pertumbuhan jumlah sampah ini tidak bisa dibalik. Upaya pembersihan ruang angkasa akan menjadi terlalu mahal. “Saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita tidak punya dana yang cukup, teknologinya belum ada, dan belum ada kerjasama. Tidak ada yang ingin membiayai upaya itu,” ucap Kaplan.

Kaplan menambahkan, pembersihan luar angkasa merupakan ‘industri yang terus tumbuh’ namun tidak ada yang ingin mengerjakan. “Selain itu, secara politik, itu juga tidak menguntungkan,” ucapnya.

Source : space.com

Gamma-Ray ; http://flucard.blogspot.com

Senin, 09 Mei 2011

Mineral Tertua di Tata Surya Ditemukan

Meteorit berusia 4,5 juta tahun yang ditemukan di Afrika mengandung salah satu mineral tertua di tata surya. Mineral itu dinamai Krotite berdasarkan nama Alexander N Krot, ahli kimia kosmos yang berkontribusi besar dalam menerangkan proses awal pembentukan tata surya.

Anthony Kampf, kurator Mineral Sciences at the Natural History Museum of Los Angeles County, mengungkapkan, "Ini adalah satu mineral yang belum pernah diketahui sebelumnya hingga kami menemukannya di sini. Sangat dramatis."
Krotite ditemukan di sebuah meteorit bernama NWA 1934 CV3 carbonaceous chondrite. Menurut ilmuwan, chondrite merupakan meteorit primitif sisa pembentukan planet. Sebagian besar meteorit yang ditemukan di dekat Bumi masuk dalam jenis ini.

Krotite terdiri dari unsur kalsium, aluminium, dan oksigen. Krotite terbentuk pada suhu 1.500 derajat celsius. Mineral itu diperkirakan terbentuk kala nebula terkondensasi dan planet terbentuk. Melihat temperatur pembentukannya, Kritite diperkirakan merupakan mineral tertua di tata surya.

Untuk menemukan mineral itu, ilmuwan menelaah butir meteorit berukuran 4 mm yang disebut "telur retak" karena penampakannya. Selain Krotite, ilmuwan memperkirakan masih ada mineral baru lainnya dalam sampel yang sama.

Pemimpin penelitian, Chi Ma, dari Caltech, mengatakan, "Meteorit ini sepertinya berasal dari asteroid di wilayah sabuk asteroid." Ia mengatakan, mempelajari mineral dalam meteorit itu bisa membantu memahami proses terbentuknya tata surya.

Penemuan mineral baru ini dipublikasikan dalam jurnal American Mineralogist edisi Mei-Juni tahun ini. Ilmuwan memperkirakan bahwa dalam sampel yang sama masih ada 8 mineral lain yang bisa ditemukan.

Source : LiveScience

Gamma-Ray ; http://flucard.blogspot.com

Jumat, 06 Mei 2011

Enam Planet Segaris di Langit Subuh



Selama Mei ini, penduduk Bumi dapat melihat enam planet anggota tata surya berada nyaris segaris di sepanjang ekliptika (bidang edar semu Matahari).

Empat dari enam planet itu dapat dilihat dengan mata telanjang, yaitu Yupiter, Mars, Merkurius, dan Venus. Dua planet lain dapat dilihat dengan binokuler atau teleskop kecil, yaitu Uranus dan Neptunus.

Di Jakarta, planet-planet itu baru dapat diamati mulai pukul 04.40. Kelima planet selain Neptunus berada pada ketinggian 5-15 derajat di arah timur tempat Matahari terbit. Adapun Neptunus terpisah agak jauh di ketinggian 55 derajat.

Untuk dapat melihat planet-planet itu, langit harus cerah dan medan pandang ke ufuk timur tidak terhalang. Hambatan utama pengamatan adalah posisi planet yang rendah dan waktu pengamatan terbatas sampai pukul 05.00. Setelah itu, cahaya planet-planet yang redup akan kalah dengan sinar Matahari.

Yang termudah mencari Venus lebih dulu, yaitu planet terang dengan posisi paling tinggi di antara planet yang bisa diamati tanpa alat lain. Adapun planet terterang kedua, Yupiter, ada di bagian paling bawah. Sedikit di atas Yupiter terdapat Mars dan semakin ke atas ada Merkurius.

Source : space.com

Gamma-Ray ; http://flucard.blogspot.com