Jumat, 22 April 2011

Bolehkah Anak Minum Kopi?

Suri Cruise, gadis kecil anak pasangan Tom Cruise dan Katie Holmes, tampak dijaga seorang pengawal dan pengasuh ketika memasuki kedai kopi Starbucks di Vancouver, Kanada. Di kota ini, sang ayah sedang syuting sekuel terbaru Mission: Impossible. Sang ibu yang biasanya menemani Suri kali ini tidak tampak.

Suri lalu mendapatkan minumannya dan membawanya dengan hati-hati. Sesekali ia meniup kopinya, lalu mengamati orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya, seolah ingin memperingatkan untuk tidak menubruknya dan membuat kopinya tumpah.

Melihat gaya Suri saat memesan kopi, terdapat kesan bahwa kopi bukan hal baru untuk gadis berusia empat tahun ini. Dalam kenyataannya, kopi memang tidak lagi dikonsumsi oleh orang dewasa yang ingin merasa lebih segar saat berada di kantor, tetapi juga anak-anak, remaja, dan dewasa muda. Campuran gula, es, saus cokelat, karamel, hazelnut, atau whip cream memang membuat kopi tak hanya memikat orang dewasa, melainkan juga anak-anak.

Menurut National Coffee Association, kelompok peminum kopi yang berkembang paling cepat adalah remaja dan orang dewasa.
“Anak-anak saat ini punya beban tugas yang berlebihan. Mereka harus mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, ditambah lagi harus mengerjakan PR. Mereka juga mencari jalan untuk tetap terjaga,” papar Dr Roshini Raj, profesor tamu di New York University.

Amankah sebenarnya minuman ini untuk anak-anak? Bukankah kopi mengandung kafein, yang dapat memicu jantung untuk berdetak lebih cepat? Benarkah laporan bahwa kafein bisa menghambat pertumbuhan dan menyebabkan adiksi?

Kepala koresponden medis dari stasiun NBC, Dr Nancy Snyderman, mengatakan bahwa bahaya minum kopi pada anak-anak lebih mendasar. “Kafeinnya saja tidak akan mencederai Anda, kecuali membuat Anda terjaga, membuat Anda insomnia, atau membuat Anda sedikit tegang,” tutur Snyderman pada Matt Lauer di acara Today. “Efek kafein sedikit lebih terkonsentrasi pada anak-anak dan kita tahu bahwa jika kita berhenti minum kopi, kita merasa pusing. Maka, anak-anak pun mungkin akan merasa pusing dan tidak tahu apa sebabnya.”
 
Selain soal kafein, yang perlu diingat juga adalah kandungan gula dan kalori yang terdapat pada mochaccino atau frappuccino (yang umum dipilih anak-anak). Beberapa jenis minuman ini memiliki lebih dari dua kali kalori kosong dalam soda. Salah-salah, anak justru akan mengalami obesitas dan bukannya mengalami pengaruh dari kafein.

Tentu, sesekali menikmati mochaccino tak ada salahnya. Snyderman memberikan tips untuk Anda jika si kecil menggemari kopi:

* Jangan membeli kopi secara rutin. Sekali atau dua kali seminggu sudah cukup atau sesering Anda membelikannya es krim. Jangan memberikan minuman ini setelah makan malam karena bisa membuat anak sulit tidur.
* Jadilah role model yang sehat untuk anak. Bagaimana anak tidak ingin mencicipi kopi bila Anda terus-menerus mengajaknya ke kedai kopi?
* Berikan pilihan lain yang lebih sehat, seperti jus buah atau susu cokelat yang bisa memberi manfaat kalsium untuk anak.

Source: briptunorman-VIVAforum

Gamma-Ray ; http://www.flucard.blogspot.com

Tidak ada komentar: